
Aku mau ikutan kontes di blognya Sosok itu alias Bang Aswi. Takut dibilang banci kontes jadi aku kasih tau dulu sebenarnya kenapa aku banyak banget ikut kontes ini kontes itu? karena di kantor kebetulan lagi agak lowong alias banyak waktu tersisa. Bos jarang ke kantor karena banyak urusan di luar kota/ luar negeri. Bosen juga nge-FB ato baca berita di Detik ato main games, jadi mending ikutan kontes kali aja menang hihihi.....
Kali ini aku mau me-review postingan di blog sosok itu yang judulnya "Bibing : Diakui sebagai ayah". Secara aku udah pernah 2 kali melahirkan, jadi paling tidak aku me-review sesuatu yang udah pernah aku alamin.
Dalam salah satu alinia postingannya, sosok itu menulis seperti ini :
Pengalaman pertama. Subhanallah. Dimarahi. Diteriaki. Menjerit. Dorong. Nafas panjang. Angkat kepalanya. Dipaksa. Ngeden. Allah Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Sosok kecil itu pun keluar dengan sempurna. Menangis. Meronta. Disedot. Tak sadar airmata mengalir. Hati berdebur begitu kencang. Sosok itu dan pasangan jiwanya berpelukan. Semua sehat. Sakit 15 bulan lalu menjadi hilang, saat janin pertama harus gugur.
Yah memang seperti itu juga yang aku alami waktu melahirkan dulu. Benar-benar pengalaman yang tidak bisa dilupakan seumur hidup. Tidak terbayang sebelumnya ada "makhluk hidup" yang begitu mungil keluar dari rahim seorang perempuan. Sungguh suatu anugrah yang tak ternilai harganya.
Melahirkan seorang anak adalah perjuangan antara hidup dan mati. Seorang ibu yang mau melahirkan membutuhkan mental yang kuat. Mental kuat bisa didapat jika ia didampingi suaminya ketika proses melahirkan itu terjadi. Untungnya 2 kali melahirkan aku selalu didampingi suami. Jadi suami tahu bagaimana perjuangan istri melahirkan anak.
Menahan sakit yang luarrr biasa, mules yang sebentar datang sebentar pergi, sang bayi sudah ingin melihat dunia tapi bukaan baru 1 tidak nambah-nambah. Terpaksa harus diinduksi supaya proses bukaan berjalan dengan semestinya. Dengan adanya induksi mules datang tiap 5 menit sekali selama 6 jam. Hingga ketuban pecah. Itulah saat sang bayi ada jalan untuk keluar dari rahim. Saat proses keluarnya si ibu harus mengeden dengan benar. Posisi duduk yang benar. Narik nafas yang benar. Sementara rasa sakit begitu mengoyak-ngoyak seluruh badan terutama bagian perut dan pinggul. Meskipun merasakan sakit yang teramat sangat ibu tidak boleh menjerit atau berteriak.
Salah mengeden bisa mengakibatkan pembengkakan pada mulut rahim, pembuluh darah di mata bisa pecah atau memperparah robekan perinium. Sementara kalo bukaan belum lengkap ibu belum boleh mengeden. Kebayang kan para suami bagaimana menderitanya istri waktu melahirkan. Menahan sakit yang amat sangat selama belasan jam.
Tapi begitu sang bayi keluar, begitu mendengar suara tangisannya, hilang sudah semua rasa sakit yang mendera tubuh. Berganti dengan perasaan senang, haru dan rasa syukur yang berulang-ulang kami panjatkan. Karena telah dikaruniai amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Begitu juga dengan sosok itu, yang setia mendampingi ketika istrinya melahirkan. Setia mendampingi hingga Bibing kini berusia 7 tahun. Semoga sosok itu selalu diberkahi dalam kehidupan rumah tangganya. amiin....
















